MU (19) mengaku belum pernah merasakan pepatah yang berbunyi kasih sayang orang tua sepanjang masa. Lulusan sekolah menengah atas (SMA) swasta itu kini merasakan pahitnya hidup lantaran harus menikahi ayah tiri, NS (47). Bahkan kini, Mu tengah mengandung lima bulan.
Ditemui di kediamannya di bilangan Panjang, Bandarlampung, Mu mengaku pasrah. Dia hanya ingin menjalani hidup bersama anaknya. Sambil duduk menjajakan gorengan dagangannya, Mu mengaku dipaksa menikahi ayah tiri oleh ibu kandungnya, Gi (40).
’’Padahal, dia tahu saya sudah punya pacar. Dia minta saya nikahi suaminya biar terurus. Katanya, kasih sayang ibu sepanjang masa. Ini yang ada menghancurkan hidup anaknya,” kata Mu kepada koran ini, Selasa (15/3).
Ceritanya bermula dari perceraian sang ibu dengan ayah kandungnya, LM (45). Sang ibu kemudian bertemu dengan NS. Dua bulan perkenalan, keduanya melangsungkan pernikahan tanpa persetujuan Mu. Berjalan setahun, sang ibu menemui Mu yang kala itu bekerja di Jakarta.
“Tahun 2014 ibu datang ke perusahaan tempat saya kerja. Sambil menangis bilang suami barunya sering curhat ke tetangga bahwa ibu saya nggak mengurus suami. Ibu minta saya pulang dan tinggal dengan dia,” kenangnya.
Sepulang dari sana, Gi memintanya tinggal dengan keluarga barunya. Namun baru berjalan kurang dari dua pekan, sang ibu meminta dirinya untuk menikahi ayah tirinya.
“Padahal ibu tahu saya punya pacar dan rencananya tahun depan saya mau menikah dengan dia. Alasan ibu karena ayah tiri saya suka sama saya. Tapi apa ibu pikir saya senang, saya bahagia?” kesalnya.
Selama 19 tahun, kata dia, Gi jarang memperhatikannya. Sang ibu pun jarang di rumah. Bahkan alasan Mu merantau ke Jakarta adalah pelarian dari perjodohan dengan seorang tukang jagal sapi asal Kalianda, Lampung Selatan.
“Saya nggak pernah dekat dengan ibu. Setelah saya menikahi ayah tiri, saya hidup mengontrak sendiri, biar ibu sama suaminya. Apa ibu pikirin saya bahagia? Dia yang menghancurkan hidup saya. Lihat di sini saya cuma dagang pecel dan jajanan seadanya,” bebernya.
Setahun sudah dia menikahi sang ayah tiri. Sambil menyesali keputusannya untuk menikahi suami ibunya, dia menginginkan kasih sayang Gi seperti ibu yang lain. Dalam ingatan Mu, sang ibu tidak pernah mencurahkan kasih sayangnya. Yang ada hanyalah keluhan dan tuntutan. Sehingga dia berpikir jika kegagalan rumah tangga sang ibu dengan ayahnya dahulu memanglah kesalahan ibunya.
“Saya iri melihat anak pakai seragam SMA masih bisa jalan-jalan shopping atau kumpul dengan orang tuanya yang masih lengkap. Sekarang bapak di Jawa, ibu saya justru memutuskan hidup saya bergantung dengan nasib kayak gini. Mana kasih sayang seorang ibu?” katanya dengan nada agak ngotot.
Soal kehamilannya kini, Mu mengaku bahwa itu merupakan anak dari ayah tirinya yang sudah dua kali diniatkan untuk digugurkan. Namun upayanya untuk mengugurkan janin tersbeut ketika berusia dua bulan gagal sehingga membuat dirinya menyerah dan meneruskan hidup bersama anaknya tanpa seorang ayah.
“Malu saya ini. Malu! Entah kenapa pada saat itu saya menurut perintah ibu tanpa berpikir panjang. Saya benriat kabur dan nggak mau bertemu dengan mereka. Di sini juga saya nggak akan tinggal lama,” akunya. (nan/c1/dna)
Comments
Post a Comment