Pernah Kontak Senjata, Indonesia Paling Dihormati
Anggota Polri tergabung dalam Formed Police Unit (FPU) angkatan ke-VII yang bertugas di Sudan, Afrika, sudah kembali ke Tanah Air. Tiga orang di antaranya adalah perwira asal Brimob Polda Kaltim. Tidak gampang menjadi pasukan di bawah bendera PBB ini, lalu bagaimana pengalamannya selama bertugas?
============EDDY ADHA
SUDAN merupakan negara di Benua Afrika yang saat ini dalam masa pemulihan pascakonflik bersenjata oleh kelompok-kelompok militan dan pemerintahnya. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) turut campur tangan mempercepat proses tersebut.
Makanya, PBB pada bulan Juni 2007 bekerja sama dengan African Union melaksanakan misi perdamaian dengan nama United Nation-African Union Mission in Darfur (UNAMID) guna mengurangi tindak kekerasan yang terjadi serta memantau perjanjian perdamaian Darfur Peace Agreement (DPA) antara Pemerintah Sudan dengan para kelompok bersenjata itu.
Masuk tahun keenam, PBB kembali meminta Indonesia mengirim pasukan dari unsur kepolisian ke Darfur yang merupakan pusat perkampungan pengungsi pascakonflik. Posisinya bagian barat Sudan yang berbatasan dengan Republik Afrika Tengah dan Libya.
Di Darfur bagian utara, terdapat wilayah bernama El Fasher. Di sinilah tempat bertugasnya pasukan FPU Indonesia yang berjumlah 140 orang. Setiap tahun terus berganti dengan jumlah personel yang rata-rata sama.
Dari satu kompi full yang dipimpin AKBP Renda Salipu saat itu, tidak disangka ada tiga orang perwira asal Brimob Polda Kaltim. Satu perwira asal Tarakan Iptu Haries Prabowo, dua lainnya dari Balikpapan. Yakni, Ipda Agus Setiawan dan Ipda Riduan Harahap SH MH.
“Pengalaman selama satu tahun di Sudan, jelas sangat luar biasa. Kami benar-benar dapat pengalaman dan pembelajaran yang sangat berharga sekali,” ujar Ipda Agus saat ditemui di kediamannya di Asrama Brimob kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Stal Kuda, beberapa waktu lalu.
Agus mengatakan, kontingen FPU Ina VII berkomposisikan 100 pasukan taktis dan 40 personel pendukung. Pasukan taktis yang terbagi menjadi empat pleton yang dipimpin perwira berpangkat ajun komisaris polisi (AKP), yakni Alpha, Bravo, Charlie dan Delta, serta pleton pendukung. “Saya ada di Pleton Charlie, pasukan bersenjata lengkap. Nah, di pleton itu dibagi lagi beberapa regu, perwira berpangkat Iptu atau Ipda seperti saya yang menjadi komandan regunya,” beber pria yang akrab disapa Boy ini.
Sementara itu, Harahap menuturkan, sekarang ini selain Garuda Bhayangkara, ada 14 kontingen FPU dari sembilan negara yang tergabung dalam misi UNAMID di Sudan. Seperti Perancis, Belanda, Mesir.
Tugasnya, kata dia, berdasarkan Mandat Resolusi Dewan Keamanan PBB. Melindungi masyarakat sipil di Internally Displaced Person (IDP Camps), terutama wanita dan anak-anak, melindungi personel PBB yang tidak bersenjata termasuk police adviser atau biasa disebut IPO.
“Jadi sesuai misinya, kita ingin kedamaian, bukan berperang. Jadi tugas kita di sana, adalah melindungi warga sekitar dan petugas PBB termasuk IPO yang tidak dipersenjatai. Misal mereka lagi mau survei atau sosialisasi, ya kita kawal. Kalau ada yang mengganggu, baru kita bergerak. Kita mengamankan fasilitas atau aset milik PBB di daerah misi, ” beber Harahap.
Pernah kontak senjata? Agus mengaku pernah. Saat itu, timnya sedang melakukan patroli. Tiba-tiba, melihat aksi kelompok militan melakukan perampokan pada salah satu warga.
Melihat pasukan PBB melintas, pelaku langsung memberondong menggunakan senjata laras panjang. Karena menggunakan kendaraan angkut personel biasa, pihaknya sempat berlindung lebih dulu. Kemudian menghubungi tim lain yang menggunakan kendaraan lapis baja.
“Kita sempat kejar mereka, tapi karena sudah sampai batas wilayah, maka pengejaran dihentikan. Kita menghindari risiko, siapa tahu mereka mengadang dengan jumlah anggota lebih banyak. Jadi memang yang rawan itu malah perampokan,” akunya.
Memang, di daerah Darfur warganya banyak memiliki senjata api pribadi secara ilegal. Anehnya, hal tersebut dianggap biasa. “Kalau di Indonesia, pasti langsung ditindak,” kata Agus. Bahkan, awal-awal bertugas, mendengar letusan senjata, timnya langsung siaga menggunakan pakaian dinas dan senjata lengkap.
“Setelah kita keluar, kok santai-santai saja polisi asli dari Sudan. Ternyata letusan senjata itu biasa, mungkin warga di sana lagi membersihkan senjata. Bahkan kita berpapasan dengan warga sipil sambil menenteng senjata AK 47 itu juga lumrah, yang penting mereka tidak berbuat yang membahayakan. Lama-kelamaan kita juga mulai memahami kondisi di sana,” tutur perwira unit (panit) 3 Suben 2 Detasemen Gegana ini.
Harahap menambahkan, kontingen FPU asal Indonesia sangat dihormati dan disegani. Itu tidak terlepas dari sejarah, bahwa Indonesia di era Presiden Soekarno merupakan salah satu yang mengakui kemerdekaan Sudan. “Jadi sama warga Sudan, terutama kulit hitam, Indonesia sangat disenangi.
Di satu sisi karena kita bersikap ramah dan sering membagi-bagikan makanan, sisi lain sejarah menunjukkan kedekatan emosional yang erat. Bahkan, sesama kontingen dari negara lain Indonesia juga diacungi jempol. Karena, kita punya disiplin dan soliditas yang bagus,” tandasnya.
Bahkan, ketika ada petugas dari PBB pusat berkunjung atau bertugas di Darfur, mereka lebih memilih kontingen FPU Indonesia yang melakukan pengawalan dibandingkan kontingen dari negara lain.
“Istilahnya, mereka lebih baik tidak berangkat tugas kalau tidak ada pasukan Indonesia yang melakukan pengawalan. Tapi kita juga selalu siap apa pun tugasnya, kalau dibilang tidak ada istirahat yang begitulah kami. Pantang tolak tugas, pantang tugas tidak selesai dengan baik. Karena kita bawa nama baik bangsa Indonesia, khususnya Polri,” beber Harahap.
“Pernah dengar istilah siaga satu? Nah, kami setiap hari itu siaga satu. Alhamdulillah, sederet penghargaan diterima kontingen FPU Indonesia oleh PBB. Kontingen Indonesia salah satu yang terbaik,” pungkas panit 1 Subden 1 Gegana ini. (*)
Comments
Post a Comment