Mengabdi 35 Tahun, Pernah “Cicipi” Jabatan Kapolres Tanpa Sespim
![]() | ||
|
Kebanggaan tersendiri jika mendapatkan penghargaan langsung dari Presiden. Apalagi penghargaan tersebut berupa kenaikan pangkat satu tingkat yang diberikan bagi anggota TNI maupun Polri. Ini pula, yang dirasakan H Rais D Adam, seorang perwira Polri di Polda Sulteng.
=============AGUNG SUMANDJAYA, Palu
MUNGKIN dari sekian banyak polisi asal Sulawesi Tengah (Sulteng) belum pernah ada yang berpangkat hingga Komisaris Besar Polisi (Kombes) sampai saat ini. Apalagi, yang berasal dari sekolah calon bintara (Brigadir). Namun itu dipatahkan H Rais D Adam BA SH.
Lulusan sekolah calon bintara di SPN Karombasan Manado itu, kini resmi mendapatkan pangkat Kombes. Ini didapatkan Rais Adam, setelah mengabdi di institusi kepolisian selama kurang lebih 35 tahun.
Ditemui akhir pekan kemarin, pria yang akrab disapa pak Haji ini, mengakui, bahwa pangkat Kombes yang didapatkannya tersebut, bukan karena jenjang karier dan lamanya berdinas.
“Saya bisa naik pangkat menjadi Kombes itu karena penghargaan langsung dari Presiden RI, bapak Joko Widodo,” ucap ayah dari dr Rani dan dr Fitriani ini.
Suami dari Dra Hj Sartini ini, juga merupakan perwira berpangkat AKBP satu-satunya asal pulau Sulawesi yang mendapatkan kenaikan pangkat penghargaan dari Presiden RI.
Se Indonesia, sesuai surat keputusan Presiden, hanya sekitar 40an perwira berpangkat AKBP yang dinaikan pangkatnya menjadi Kombes, terhitung mulai tanggal 1 Februari 2016.
“Saya tidak pernah berpikir bisa naik pangkat menjadi Kombes. Namun ternyata bisa juga Kombes. Ini juga tidak lepas dari penilaian pimpinan terhadap saya, yang kemudian diusulkan kepada Presiden,” tuturnya.
Rais yang pada April mendatang genap berusia 57 tahun ini, memang hanya setahun saja bisa memakai seragam dengan pangkat tiga melati di pundak.
Sebab, terhitung tahun ini, Rais sudah memasuki masa persiapan pensiun (MPP). Namun, tetap menjadi suatu kebanggaan bagi pria asal Desa Kalumbatan, Kecamatan Totikum, Kabupaten Bangkep ini.
“Kita syukuri, karena ini bentuk penghargaan tertinggi dari Negara terhadap apa yang telah kita lakukan selama ini,” ujar Kepala Bidang Hukum (Kabidkum) Polda Sulteng ini.
Dia sedikit mem-flash back perjalanan kariernya selama 35 tahun di institusi berseragam coklat tersebut. Dimulai dirinya lulus dari SPN Karombasan pada tahun 1982, dengan pangkat pertama Sersan Dua (Brigadir Dua).
Rais langsung bertugas sebagai anggota Intelijen di Polres Donggala, yang dahulu bermarkas di Kota Palu. Menjadi seorang sersan polisi pun ketika itu, tidak lama dijalani. Sebab, pada tahun 1985, Rais Adam masuk sebagai calon perwira (Capa) dan lulus pada tahun 1986.
“Kebetulan ada aturan, bahwa jika sarjana muda bisa ikut seleksi Capa, meski belum lama berdinas. Saya memang dulu lulusan dari APDN Manado tahun 1981 juga,” tuturnya.
Jabatan pertama yang diembannya selepas lulus dari sekolah perwira, yakni menjadi Kapolsek Moutong dan beberapa jabatan lainnya di wilayah Polres Donggala. Kemudian di tahun 1998 hingga 2000, dia dipercaya menjadi Kapolsek Selektif Palu (Polsek Palu Selatan).
Tidak berhenti di situ, Rais kemudian menjadi Kasat Polair Polda Sulteng pertama, yang kini diubah namanya menjadi Direktorat Polisi Perairan Polda Sulteng.
“Mungkin karena saya ditahu memang anak nelayan, makanya pimpinan saat itu suruh saya jadi Kasat Polair,” kelakarnya.
Puncak karir Rais Adam pun, dirasakannya ketika tahun 2006 hingga 2008 dipercaya menjabat sebagai Kapolres Touna.
Rais terbilang beruntung, sebab, meski tidak merasakan jenjang pendidikan Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim), jabatan Kapolres bisa didudukinya. Pria yang dikenal ramah dan senang humor ini, juga sempat menjadi Kepala Dinas Penerangan (Dispen) yang sekarang menjadi Bidang Humas Polda Sulteng.
Kini, Rais menjabat sebagai Kabidkum Polda Sulteng, sejak 2008 silam. Tugasnya sebagai seorang pejabat bidang hukum di Polda Sulteng, mengharuskan dirinya harus membela institusi Polda, di saat para penyidik di daerah ini mendapatkan gugatan praperadilan.
Meski begitu, kebanyakan kasus praperadilan yang dihadapinya menang di pengadilan.
“Itu semua tidak lepas peran dari rekan-rekan saya di Bidkum yang memang semuanya ahli di bidang hukum dan merupakan kerja bersama,” terangnya.
Selama menjalankan tugas sebagai anggota Polri diakuinya sangat berkesan. Namun yang paling berkesan buat dirinya, ketika hampir berhadapan dengan maut, saat mendampingi Brigjen Arianto Sutadi, yang saat itu menjabat Kapolda Sulteng di tahun 2003.
Helicopter yang ditumpangi Rais bersama Arianto Sutadi, terhempas oleh angin kencang di sekitar wilayah Dampelas.
“Ketika itu kami dari kunjungan kerja di Tolitoli, hendak kembali ke Palu, dan tiba-tiba mendapati cuaca buruk. Kami semua sudah pasrah, beruntung pilot bisa mendarat darurat di wilayah Malonas,” kisahnya.
Meski demikian, selama bertugas sebagai anggota Polri, dirinya selalu menanamkan dalam diri untuk menyukai terlebih dahulu apapun tugas yang diberikan pimpinan.
“Kita sukai dulu tugas yang diberikan, dengan begitu kita menjalannkannya dengan senang dan tugas pun bisa dijalankan dengan sukses,” sebutnya.
Dia pun tidak lupa berterimakasih kepada Kapolda Sulteng, Brigjen Pol Idham Azis, yang telah mempercayakan dirinya, untuk bisa mendapatkan kenaikan pangkat, untuk mengabdikan diri kepada negara di sisa-sisa masa dinasnya.
“Apa yang saat ini saya dapatkan, juga tidak lepas dari campur tangan Allah SWT. Sehingga saya selalu sadar, bahwa sebesar apapun tugas yang saya hadapi berkat petunjuk dari Allah SWT semuanya bisa terselesaikan,” kunci Rais, yang juga mendapatkan penghargaan Bintang Nararya dari Presiden RI. (**)

Comments
Post a Comment