Asyraful Anam, Santri yang Andal di Bidang Seni Kaligrafi

Bisa Melukis Kilat, Paling Sulit Padukan Warna

KREATIF: Asyraful Anam melukis khat Arab di stan bazar Pekan Ngaji di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata (Muba), Pamekasan, kemarin.


Pondok pesantren tidak hanya mengajarkan pendidikan agama dan kitab kuning. Banyak potensi santri terasah dan dikembangkan di lembaga ini. Salah satunya, kreativitas santri di bidang kesenian.

=========MOH. ALI MUHSIN, Pamekasan

GAMBAR Prisiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) terpajang di salah satu sudut atas ruangan. 

Dua poster itu dipisahkan oleh kayu kerangka stan. Di bawah itu terdapat miniatur garuda.


Sedikit ke kanan terdapat tiga lukisan aksara Arab. Satu lagi kaligrafi itu ada di dinding sebelah kanan. Tepat di tengah stan terdapat sebuah meja. 
Di atasnya terdapat kain putih, beberapa kuas, cat, dan kelengkapan melukis.

Stan itu merupakan salah satu tempat yang menyita perhatian pengunjung dalam Pekan Ngaji. 

Kegiatan itu digelar Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata (Muba), Pamekasan. Di tempat tersebut Asyraful Anam menunjukkan kelihaiannya dalam membuat seni kaligrafi.

Dia memang masih muda. Pada tahun ini, dia masih berumur 15 tahun. Namun, kreativitas yang dimiliki dalam seni lukis tidak boleh disepelekan. Dia mahir membuat lukisan-lukisan Arab.

Berbagai macam khat Arab telah dia kuasai. Baik kuufi, riq’ah, diwani, dan berbagai jenis yang lain. Untuk menguasai berbagai macam khat tersebut, dia hanya butuh waktu tiga bulan. Prestasi pun mulai direngkuh remaja asal Sampang itu.

Kreativitasnya di bidang seni kaligrafi dibuktikan pada Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma) tingkat provinsi 2015. Saat itu dia berhasil meraih juara pertama. Atas prestasinya itu, dia didelegasikan mewakili Jawa Timur ke tingkat nasional. Dia pun berhasil terpilih sebagai juara ketiga. 

Hingga saat ini, Anam meghasilkan ratusan kaligrafi. Beberapa di antaranya, dipajang di stan khusus dalam acara Pekan Ngaji kemarin (2/1). 

Lukisan yang dipajang mampu menyedot perhatian ribuan santri dan masyarakat. Mereka terlihat takjub dan kagum atas kemampuan Anam.

Di stan itu pula Anam membuktikan kemahirannya kepada pengunjung. Dia membuat kaligrafi kilat langsung jadi di lokasi. Peralatan lukis seperti pensil, kertas, dan beraneka ragam warna cat telah disediakan. 

Melalui tangannya, dia cepat menghasilkan kaligrafi indah. 

Tak pelak, pengunjung banyak membeli hasil karyanya. Harganya variatif. Mulai Rp 400 ribu–Rp 1 juta. Itu sesuai dengan pesanan dan nilai seninya. 

”Alhamdulillah, karena lukisan ini, saya sedikit bisa meringankan beban orang tua dengan menanggung biaya pendidikan sendiri,” ungkap siswa kelas IX madrasah tsanawiyah (MTs) itu.

Kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), Anam mengatakan tiap hari bisa menghasilkan dua kaligrafi. Proses pemaduan warna merupakan hal paling sulit. Sebab, jika salah dalam meracik cat, bisa berdampak fatal pada hasil.

Hobi melukis dijalani sejak dia SD kelas VI. Setelah nyantri di Bata-Bata, dia masuk ke Jamiatul Khattat. Badan otonom itu mengasah hobi kemampuan santri dalam bidang seni lukis. 

”Alhamdulillah, saya bisa,” ujarnya.

Sebelum melukis, dia harus mencari inspirasi agar hasilnya terlihat indah. Inspirasi melukis itu terlebih dahulu harus melalui guru. Sebab, seni khat tidak bisa mengira-ngira.

”Pembali ada yang warga Pamekasan maupun dari luar kota,” kata santri yang berkeinginan melukis dengan pasir tersebut. (*/luq)

Comments