Sekelumit Kisah Perawat di Klinik Jiwa RS Tumbililato


Salah seorang pasien gangguan jiwa nampak duduk di dalam ruang perawatan Klinik gangguan jiwa RSUD Tumbililato, Jumat (27/11)
“Butuh kesabaran, butuh tenaga ekstra dan butuh kehati-hatian dalam menjalankan tugas ini. Tugas yang memang tidak mudah bagi sebagian orang, namun bagi mereka perawat penyakit jiwa yang bersedia untuk bertanggungjawab atas tugas tersebut mau tidak mau, suka tidak suka tetap menjalankannya dengan rasa penuh tanggung jawab. Tak heran jika para perawat di klinik jiwa Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tumbililato bak pahlawan. Sebab mereka harus pandai merayu, rela ditonjok pasien, dibentak-dibentak, sampai harus kejar-kejaran. Meski harus bekerja keras, mirisnya mereka sebatas honorer yang suatu saat berharap bisa diakui negara karena tugas kemanusiaan tersebut”

=========Yudistirah MA Saleh – Bone Bolango

JUMLAH perawat di RSUD Tumbililato yang terletak di Kecamatan Bone Raya, Kabupaten Gorontalo hanya berjumlah 4 orang serta dibantu 3 orang security. Meski dengan SDM terbatas itu, tak sedikit pasien yang sembuh setelah dirawat di klinik ini. Selang Januari hingga Oktober kemarin setidaknya ada 50 pasien berhasil disembuhkan.

Lubis Noo salah satu perawat di RSUD Tumbililato mengatakan, dalam melaksanakan tugas, sering perawat mengalami kesulitan saat menangani pasien penyakit jiwa. “Kadang kami harus berjibaku dengan pasien, apalagi kalau mereka mengamuk di dalam kamarnya,” kata pria yang sudah lebih dari 2 tahun mengabdikan diri sebagai perawat kejiawaan di RS Tumbililato.

Menurut Lubis tak jarang ia dan perawat-perawat lainnya harus merelakan bagian tubuh mereka menjadi sasaran pukulan ataupun cakaran para pasien yang mengamuk. Namun, hal itu tak membuat pelayan kemanusiaan ini kendur semangat. Mereka tetap semangat untuk meberikan pelayanan bagi pasien-pasein mereka itu. “Sudah resiko mas, pasien gangguan jiwa itu tak boleh dikerasi jika ingin mereka segera sembuh, harus dibujuk, apalagi kalau mau minum obat,” terangnya.

Meski begitu kata Lubis, adakalanya ia atau para perawat lain harus meminta bantuan Rian, salah seorang security jika kewalahan menjaga pasien yang ganas atau ingin memberikan pengajaran khusus bagi pasien.

“Saya pernah mengajar pasien gangguan jiwa asal Kabupaten Pohuwato untuk berenang di laut. Tak disangka waktu itu, ia berenang sampai ke tengah laut. Nyaris pasien itu tewas tenggelam. Beruntung saya bersama seorang teman dibantu para nelayan berhasil menyelamatkan pasien itu,” kenang Rian yang sudah setahun bekerja sebagai anggota keamanan klinik gangguan jiwa RSUD Tumbililato itu.

Ada juga kondisi yang lebih sulit lagi kata Rian. Yakni jika pasien gangguan jiwa terlibat perkelahian. “Tak bisa dibayangkan bagaimana repotnya. Belum kalau ada pasien yang berhasil kabur,” jelasnya.

Ditengah keberadaan dengan SDM dan fasilitas terbatas itu, Klinik Gangguan Jiwa RSU Tumbililato sangat dibutuhkan. Sebab, mengurus orang yang gangguan kejiwaan bukanlah hal yang mudah bagi kebanyakan masyarakat. Hal ini pun diakui Hamid Akae, warga Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo. “Sebelumnya saya pasrah dengan penyakit yang menimpa anak saya. Ia mengalami gangguan jiwa saat masuk SMA. Berbagai jalan pengobatan telah ditempuh, namun belum sembuh. Saya kesulitan merawatnya. Beruntung ada klinik ini,” kata Hamid saat membesuk anaknya kemarin, (27/11). Ia bersyukur, setelah dua bulan di rawat di klinik RSU Tumbililato anak kesayangannya itu sedikit demi sedikit mulai menunjukan perubahan mental kearah yang lebih baik.

Direktur RSUD Tumbililato dr. Ernawaty mengatakan, dari 4 perawat dan 3 security ini dilakukan penjadwalan jaga sehingga dalam satu kali interval jaga, semua pasien gangguan jiwa ini dijaga oleh 2 orang perawat ditambah dengan 2 orang security. “Kami sadar jika hal ini memang sangat kurang, tapi apa boleh buat, kami memang sudah diperintahkan untuk mengadakan sebuah klinik gangguan jiwa, sehingga mau tak mau kami harus memanfaatkan seluruh fasilitas dan SDM yang memang sudah tersedia sebelumnya,” ungkapnya.

Keempat perawat yang ditugaskan menjaga dan merawat pasien gangguan jiwa ini, menurut dr. Ernawati bukanlah perawat khusus penyakit jiwa, melainkan hanya perawat umum yang dilatih cara penanganan penyakit gangguan jiwa serta masih berstatus honorer. Menurut keterangan sejumlah perawat setempat, bahkan klinik ini tak memiliki dokter ahli gangguan jiwa. (***)

Comments